bukit uhud terukir nama nabi muhammad

Maksudnya "Nabi SAW mendaki Jabal (Gunung) Uhud, diikuti oleh Abu Bakar, Umar dan Uthman. Lalu gunung Uhud itu bergetar. Maka baginda bersabda: Tenanglah wahai Uhud, kerana di atasmu sekarang ada Nabi, As-Siddiq (orang yang jujur, iaitu Abu Bakar) dan dua orang syahid (iaitu Umar dan Uthman)." (HR Bukhari, hadis sahih) RasulullahSAW bersabda: "Bukit Uhud adalah salah satu dari bukit-bukit yang ada di syurga." (H.R. Bukhari) Rasulullah SAW juga menyatakan kecintaan terhadap gunung ini dalam sebuah hadistnya. Dari Anas bin Malik R.A, Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya Uhud adalah satu gunung yang mencintai kami dan kami juga mencintainya." SaatNabi Muhammad beserta pasukan tiba di bukit Uhud, bukit kecil yang ada di depan Gunung Uhud. Nabi Muhammad SAW menempatkan 50 pemanah di bawah pimpinan Abdullah bin Jubair di puncak bukit. Karena itulah bukit ini disebut sebagai Jabal Ar-Rumah yang artinya bukit pemanah, yang juga disebut sebagai Jabal Ainain yang secara harfiah memiliki NabiMuhammad SAW bersabda, 'Bukit Uhud ialah salah satu dari bukit-bukit yang terdapat di surga'," demikian hadist yang diriwayatkan HR Bukhari. Jabal Uhud selalu diingat oleh umat Islam, sebab di lembah gunung ini pernah terjadi pertempuran besar antara pejuang Islam dan kaum kafir Quraisy pada 15 Syawal 3 Hijriah (Maret 625 Masehi), yang mengakibatkan 70 pejuang Islam meninggal secara syahid. Akusama sekali tidak bisa membantu kalian menghindar dari siksa Allah.". Kemudian Nabi Muhammad saw menyeru secara khusus paman beliau Abbas ibn Abdul Muththalib, dan bibi beliau Shafiyah binti Abdul Muththalib. Kepada masing-masing Nabi Muhammad menyatakan: "Aku sama sekali tidak bisa membantumu menghindar dari siksa Allah.". vay tiền nhanh chỉ cần cmnd asideway. Email Subscription Join 1,873 other subscribers BERSYUKUR DIATAS NIKMAT KURNIAAN ILAHI بسم الله الرحمن الرحيم ☛Daripada Abu Said al-Khudri dari Nabi Baginda telah bersabda yang maksudnya ”Mana-mana orang mukmin yang memberi makan kepada seorang mukmin semasa ia lapar, nescaya Allah memberi makan kepadanya pada hari kiamat dari buah-buahan Syurga dan mana-mana orang mukmin yang memberi minum kepada seorang mukmin semasa ia dahaga, nescaya Allah memberi minum kepadanya pada hari kiamat dari minuman syurga yang tersimpan dengan sebaik-baiknya dan mana-mana orang mukmin yang memberi pakai kepada seorang mukmin semasa ia memerlukan pakaian, nescaya Allah memberi pakaian kepadanya dari pakaian syurga. At-Tirmidzi Denngan segala hormatnya kami ingin menarik perhatian Yang Dihormati Tan Sri / Dato’ Sri/ dato’ Seri/ Dato’ Sri/Datuk Seri/ Datuk/Dato’/Tuan/puan/ Muslimin/Muslimat, Saudara/Saudari yang dirahmati Allah SWT sekalian, Bantulah kami dalam menjayakan program infaq kepada 1-70 anak yatim – Markaz Umar Al-Khattab- Daerah Kg. Som. 2-9 Orang Muallim – Markaz Bahasa Arab Al-Umriah-Daerah Koh Kong. 3-7 Orang Muallim- Madrasah Nurul Ihsan-Daerah Kampot. 4-6 Orang Muallim –Madrasah Mahmud Mahyuddin- Daerah Kampot. 5-2 Orang Muallim- Markaz Iman Tarbawi- Daerah Koh Kong. 6-92 Mahasiswa dan Mahasiswi Islam Kemboja di Universiti Fatoni,Thailand. 7- Ribuan warga muallaf, imam fakir miskin di 3 daerah selatan Kemboja Kampot, & Koh Kong. Sila hantar salinan slip bank in tuan-puan kepada kami melalui gmail ihyaassunnah68 atau WhatsApp ke no tel +60199576237 Ustaz Amin setelah tuan-puan membuat bayaran ke akaun Maybank 553131011505. Jutaan Terima kasih Diatas Sumbangan dan Sokongan Tuan-puan yang berterusan kepada kami. Hadis Dan Kata-Kata Hikmah Pilihan Imam Al-Ghazali pernah berkata " Cara hidup kita di dunia adalah bayangan cara kehidupan kita di Akhirat nanti ". قال النبى صلى الله عليه وسلم إذا ترك العبد الدعاء للوالدين فإنه ينقطع الرزق - رواه الديلمى - تحذيب أطراف الحديث ص 24 Apabila seseorang meninggalkan doa kepada kedua ibu bapanya, terputuslah darinya rezeki. ***************** Kata-Kata Hikmah Aku ingin melihat Allah SWT tetapi , keupayaan aku tidak mampu, namun aku mampu melihat keagungan Ciptaan dan Kejadian Allah SWT. Aku rindu mendengar kata-kata Allah SWT tetapi aku dapat mendengar kata-kataNya dalam Al-Quran Al-Karim. Aku ingin bersahabat dengan Allah SWT, maka aku hanya mampu bersahabat dengan Rasulullah SAW dan juga Hadis-Hadis yang Baginda wariskan pada ulamak-ulamak. ****************** UJIAN ADALAH TARBIAH DARI ALLAH AZZAWAJAL ****************** قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ من أراد أن يعلم منزلته عند الله فلينظر كيف منزلة الله من قلبه فإن الله عزوجل ينزل العبد حيث أنزله العبد من نفسه , m/s 57 Tazkiyah Nufus " Sesiapa yang hendak mengetahui kedudukannya di sisi Allah SWT, maka lihatlah kedudukan Allah SWT di dalam hatinya. Sesungguhnya Allah SWT meletakkan kedudukan hambanya di sisiNya sebagaimana hamba meletakkaNya di dalam dirinya." Tazkiyah Nufus Rasulullah bersabda "Sesiapa yang berjalan untuk solat fardhu maka pahalanya seperti orang yang mengerjakan haji dan jika ia berjalan untuk solat sunat maka pahalanya seperti orang yg mengerjakan umrah sunat" ********** Kerja adalah Ibadat dan Masa adalah Amanah daripada Allah SWT - Kekalahan pasukan Quraisy di Sumur Badar pada Ramadan tahun 624 Masehi sangat memukul mentalitas pemimpinnya, Abu Sufyan. Dalam versi penduduk Makkah yang tidak mengakui kenabian Muhammad, kekalahan yang mereka terima adalah sebuah penyergapan yang memukul aktivitas utama kehidupan kota metropolis-perdagangan mereka. Dengan jumlah pasukan kurang dari sepertiga dari orang-orang Quraisy, Philip K. Hitti dalam History of The Arabs 2005 146 menerangkan, peristiwa itu punya posisi penting dalam sudut pandang militer, terutama dari aspek psikologis. Perang Badar menjadi tonggak munculnya reputasi Nabi Muhammad yang tidak hanya andal sebagai seorang pemimpin agama, melainkan juga pemimpin militer yang tangguh meski tanpa pengalaman memimpin perang sebelumnya. Segera, setelah kekalahan tersebut, Abu Sufyan mendesak para penduduk Makkah untuk melancarkan serangan balasan. Dalam tempo yang relatif singkat, Shafiyyu al-Rahman al-Mubarakfuri menyebut dalam Sirah Nabawiyah 1997 279 bahwa Abu Sufyan berhasil mengumpulkan sekitar seribu unta dan seribu lima ratus dinar. Selain soal balas dendam, serangan ini juga berfungsi untuk mengamankan rute perdagangan ke Negeri Syam bagi pedagang-pedagang Makkah. Abu Sufyan memimpin sendiri pasukan Quraisy berjumlah orang terlatih, termasuk di dalamnya pasukan berbaju zirah. Tak hanya itu, mereka juga diperkuat 200 orang pasukan kavaleri. Keberangkatan itu terjadi setahun setelah perang di Badar 625 Masehi pada bulan Syawal tahun ketiga Hijriah. Rombongan pasukan ini berjalan dari Makkah sampai tiba di dua mata air di Lembah Sabkhah dari saluran air di atas lembah yang menghadap Madinah. Pasukan Muslim awalnya tidak tahu bahwa ada permukiman pasukan dari Makkah yang berkemah dengan jarak tidak begitu jauh dari Madinah. Baru dua sampai tiga hari kemudian Nabi Muhammad mengetahui informasi bahwa Madinah sedang berada dalam ancaman. Itupun karena pemberitahuan dari Abbas, pamannya yang masih di Makkah, yang diam-diam mengirim akhirnya, setelah informasi dari mata-mata yang dikirim Nabi untuk menandai musuh, diadakan pertemuan pada Jumat, 6 Syawal 3 Hijriah. Karena merasa bahwa pasukan yang bermukim tidak jauh dari Madinah adalah pasukan yang sangat berbeda dari pasukan setahun sebelumnya di Badar, Nabi pun mengusulkan untuk tetap bertahan di dalam kota. Membiarkan pasukan musuh menyerbu kota tentu saja pilihan yang lebih bijak. Harapannya, strategi ini akan lebih mampu memukul mundur pasukan musuh daripada meladeni pertempuran di tempat terbuka. Maklum, selain soal jumlah, dari segi pengalaman tempur dan persiapan, musuh jauh lebih unggul daripada pasukan Muslim. Masalahnya, euforia kegemilangan pada Perang Badar satu tahun sebelumnya masih muncul dari para pasukan muslim. Beberapa di antaranya begitu bersemangat sehingga memilih untuk menyambut kedatangan musuh di luar kota Madinah. “Rasulullah, kami tidak ingin bertempur di jalan-jalan Madinah. Pada zaman jahiliyah kami selalu menjaga agar hal itu tidak terjadi. Jadi, ada baiknya setelah kedatangan Islam, hal itu tetap dilestarikan,” kata seorang Anshar dalam Biografi Rasulullah terj. As-Sirah an-Nabawiyyah, 2005 484. Mendengar itu, Nabi tanpa bicara langsung mengenakan baju zirah dan menyiapkan persenjataan. Siap untuk segera berangkat menuju medan perang. Melihat reaksi Nabi, para sahabat yang lain terkejut. Ada yang merasa bahwa yang baru saja terjadi tidaklah pantas karena terkesan seperti “membangkang” perintah Nabi. Perdebatan kecil pun terjadi di antara mereka. “Rasulullah sebenarnya telah menjelaskan sesuatu kepada kalian, tetapi kalian menghendaki yang lain. Jadi, Hamzah, temuilah Rasulullah dan katakan kepada beliau, 'segala keputusan kami serahkan kepada Rasulullah',” ujar salah satu sahabat kepada Hamzah bin Abdul Muthalib, paman pun menemui Nabi dan menyampaikan pesan tersebut. Mendengar pesan demikian, Nabi bersabda, “Bukanlah seorang nabi bila ia telah memakai baju zirahnya lalu menanggalkannya dan surut sebelum perang terlaksana.” Maka berangkatlah pasukan berjumlah orang dari Madinah menuju Pergunungan Uhud. Jumlah pasukan yang hanya sepertiga dari pasukan Quraisy ini rupanya masih harus berkurang karena ada perselisihan saat perjalanan. Ketika pasukan ini sampai ke wilayah Syauth, Abdullah bin Ubay bin Salul bersama pasukannya yang berjumlah 300 orang memilih pulang ke Madinah. Ada dua alasan yang disebutkan Ibnu Salul. Pertama, peperangan ini tidak akan terjadi karena perjalanan sudah cukup jauh tapi mereka belum juga menemui permukiman musuh. Kedua, Ibnu Salul tidak ingin bertempur di luar teritori Madinah. “Dia Nabi memilih mengikuti pendapat para budak dan orang-orang yang tak berakal dan menolak pendapatku. Lalu untuk apa kita membinasakan diri kita sendiri?” kata Ibnu Salul kepada pasukannya. Rupanya, Ibnu Salul adalah orang yang setuju dengan usul Nabi yang pertama saat musyawarah yakni memilih bertahan di Madinah. Hal yang diabadikan dalam surat An-Nisa ayat 88 dan Ali Imran 166-167 ini sempat membuat pasukan Nabi terpecah menjadi dua kubu. Terutama ketika Nabi tidak mengijinkan para sahabat untuk balik memerangi Ibnu Salul yang membelot. Beberapa klan, seperti Bani Salamah dan Bani Haritsah, sempat tergerak untuk ikut pulang ke Madinah mengikuti Bani Salul. Tapi tindakan pengecut itu tidak berpulangnya pasukan Ibnu Sulal, pasukan Nabi hanya tersisa 700 orang. Melawan personel musuh memang rasanya sedikit mengkhawatirkan. Mengingat di kubu musuh juga ada sosok Khalid bin Walid saat itu belum masuk Islam yang begitu tersohor karena kepiawaiannya dalam pasukan ini kembali terjadi saat Nabi memulangkan beberapa orang di barisannya yang dianggap terlalu muda. Ada Abdullah bin Amru, Zaid bin Tsabit, Usamah bin Zaid, dan banyak lagi yang jika ditotal ada sekitar 14 remaja yang disuruh Nabi pulang ke Madinah. Meski begitu ada beberapa remaja yang dibolehkan, seperti Rafi bin Khudaij yang bersikeras ingin ikut berperang. Nabi pun mengizinkannya karena ia seorang Sabtu pagi tanggal 7 Syawal tahun 3 Hijriah, pasukan Nabi melewati kebun milik Mirba’ bin Qiadzhi, seorang buta yang membenci Nabi setengah mati. Mendengar kabar bahwa pasukan Nabi akan melewati kebunnya, ia langsung mengambil segenggam tanah dan melemparnya ke wajah pasukan ini, termasuk mengenai muka Nabi. “Seandainya pun engkau benar utusan Tuhan, aku tidak rela engkau menginjak kebunku ini! Demi Tuhan, seandainya aku tahu bahwa debu yang kulemparkan ini mengenai orang selain dirimu Muhammad, aku akan menghantam wajahmu!” kata Ibnu Qiadzhi. Terang saja pasukan Nabi yang mendengarnya langsung berebut untuk membunuhnya. Maklum, bahkan sebelum melemparkan tanah tingkah laku Qiadzhi ini sudah memancing kemarahan. Salah satu sahabat yang begitu marah adalah Sa’ad bin Zaid. Namun, lagi-lagi, Nabi melarang Ibnu Zaid untuk melakukannya dan memilih meninggalkan pria buta ini. Sesampainya di bukit Uhud, Nabi mengatur 50 pemanah di bawah pimpinan Abdullah bin Jubair di posisi puncak bukit. Posisi yang sempurna agar posisi pasukan Nabi tidak dikepung musuh. “Lindungilah kami dari belakang. Bila kalian melihat kami bertempur, tidak perlu kalian membantu kami,” kata Nabi. Philip K. Hitti, dalam History of Arabs 2005 850 menceritakan bagaimana detail persiapan peperangan Arab pada era kenabian. Masing-masing suku atau klan akan memiliki ciri masing-masing. Misalnya, secarik kain yang menjadi identitas diikatkan pada ujung tombak atau panji oleh orang yang paling tersohor di barisan terdepan. Panji perang milik Nabi Muhammad sendiri bergambar uqub atau burung elang. Pedang terbaik bangsa Arab diadopsi dari pedang buatan India yang juga sering disebut hindi. Senjata utama pasukan kavaleri berkuda/berunta adalah rumh atau tombak panjang yang gagangnya diukir tulisan Arab. Selain busur dan panah, tombak juga merupakan senjata tradisional bangsa Arab. Selain soal senjata, formasi tempur maupun tata cara pertempuran pada era itu juga masih primitif. Pertempuran akan dimulai secara individu. Setiap kubu akan mengajukan petarung terbaik. Ada berbagai versi yang menyebut Ali bin Abi Thalib maju sebagai lawan Thalhah bin Abu Thalhah. Versi lain menyebut Hamzah yang berduel dan versi lain menyebut Al-Zubair yang maju. Yang jelas, sebelum terjadi perang, duel individu ini dimenangi oleh pihak Nabi. Dari riwayat Imam Muslim terj. As-Sirah an-Nabawiyyah, 2005 492 peperangan terjadi begitu dahsyat. Situasi awal pertempuran didominasi oleh pasukan Nabi, terutama karena keberadaan pasukan pemanah di atas bukit yang bisa melihat pergerakan musuh di bawah. Untuk membangkitkan semangat pasukan, di tengah-tengah bertempuran Nabi mengambil sebilah pedang yang jatuh dan menawarkannya pada pasukannya, “Siapa yang akan mengambil [pedang] ini dariku?” Pasukan Nabi berebut mengambilnya, “Aku ya Rasulullah, aku…” Nabi kemudian meneruskan kalimatnya, “Siapa yang akan mengambil pedang ini dan akan menggunakannya dengan benar?” Mendadak para pasukan yang tadi berebutan terdiam. Sampai kemudian Abu Dujanah maju. “Aku akan mengambil pedang itu dan siap menggunakannya dengan benar.” Dari riwayat Ibnu Ishaq, disebutkan bahwa Abu Dujanah kemudian bertanya kepada Nabi. “Lalu apa hak pedang ini, ya, Rasulullah?” “Agar pedang tersebut diayunkan kepada musuh sampai musuh itu roboh,” sabda Nabi menjadi berbalik ketika pasukan muslimin di bukit melihat kemenangan seperti sudah di ujung mata. Ashhab bin Jabir berkata dari puncak bukit, “Mari kita ambil harta rampasannya!” Ibnu Jubair, pemimpin pasukan pemanah, mencoba mengingatkan, “Apa kalian lupa pesan Nabi?” Infografik Mozaik Pasukan Muslim Kalah di Uhud. Tanpa memedulikan peringatan Abdullah, mereka pun turun. Kemenangan di awal pertempuran di Bukit Uhud pun hilang saat Khalid bin Walid bersama pasukan kavalerinya menyadari kecerobohan pasukan pemanah Nabi. Dengan mengitari bukit, Khalid bin Walid menyerang pasukan ini dari belakang. Hal yang kemudian membuat Lembah Uhud jadi jebakan sempurna bagi pasukan Muslim. Membuat mereka terdesak dari arah depan dan belakang. Kekacauan yang sampai membuat pasukan muslim tidak bisa membedakan kawan dan lawan. Beberapa sahabat bahkan tidak sengaja saling serang karena tidak tahu harus menyerang ke arah mana. Kacaunya situasi ini sempat membuat keberadaan Nabi tidak diketahui oleh sesama pasukan muslim. Dalam kekacauan tersebut, tersiar kabar bahwa Nabi telah ini tentu saja membuat mental pasukan muslim runtuh seketika. Beberapa ada yang masih bertempur tapi sebagian besar sudah putus asa karena merasa pemimpin mereka sudah ikut gugur. Bahkan tidak sedikit yang memilih melarikan diri dari medan pertempuran. Dalam Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad Jilid 2 2008 122 disebutkan “ketiadaan” Nabi terjadi karena seorang sahabat bernama Mush’ab bin Umair mencoba melindungi Nabi dari gempuran musuh. Perlindungan yang juga menyembunyikan identitas dan keberadaan Nabi di tengah situasi kacau ini. Hal itu terus dilakukan oleh Mush'ab sampai ia sendiri gugur di medan di Perang Uhud tentu saja menyakitkan. Tidak ada kekalahan yang menyenangkan. Euforia kemenangan dalam Perang Badar seperti menguap begitu saja. Apalagi kekalahan ini juga diikuti oleh kematian yang tidak sedikit. Salah satu yang meninggal adalah Hamzah, paman Nabi Muhammad, orang yang nyaris selalu berada di samping Nabi dalam Perang Badar. Namun, kekalahan ini juga bermakna penting karena memberi banyak pelajaran kepada pasukan Muslim tentang pentingnya menjauhi perseteruan di kala genting, tentang pentingnya disiplin sebagai pasukan, juga perihal keharusan menaati taktik dan strategi yang sudah diputuskan dan disepakati. Setidaknya, kendati kalah, Nabi Muhammad selamat. Pengorbanan Mush’ab tidak sia-sia karena Nabi berhasil diselamatkan untuk melakukan perang balasan yang akan membalikkan situasi dua tahun kemudian. Jika peperangan di Bukit Uhud memunculkan nama Khalid bin Walid sebagai aktor utama, maka di periode berikutnya, giliran nama Salman Al-Farisi yang muncul. Tentu saja dengan kisah melegenda lainnya yang bernama Perang Khandak Perang Parit.========== Artikel ini terbit pertama kali pada 4 Juli 2017. Redaksi melakukan penyuntingan ulang dan menayangkannya kembali untuk rubrik Mozaik. - Humaniora Penulis Ahmad KhadafiEditor Zen RS Madinah - Jabal Uhud di Madinah, Arab Saudi sering menjadi destinasi wisata religi jamaah umrah atau haji. Pengunjung bisa mengenang Perang Uhud dan perjuangan Nabi Muhammad SAW di Uhud adalah bukit terpanjang di Madinah yang membentang 6 km. Nama Jabal Uhud bisa diartikan sebagai bukit yang menyendiri. Berbeda dengan umumnya bukit dan gunung di Madinah yang saling menyambung, Jabal Uhud tidak berkesempatan berkunjung ke sana beberapa waktu silam. Jamaah umrah kala itu banyak juga yang datang ke Jabal Uhud. Itu memang bukan destinasi biasa. Jabal Uhud menjadi saksi bisu dari Perang Uhud di tahun 625 silam. Sebanyak 70 orang syuhada gugur dan dimakamkan di sana. Dahulu Nabi Muhammad SAW kerap ziarah ke Jabal Uhud. Sehingga kemudian umat Muslim yang ke Tanah Suci untuk umroh atau haji pun kerap datang ke Jabal Uhud untuk berziarah. Foto Nurvita/detikTravelKomplek pemakaman terlihat begitu sederhana. Di sekelilingnya diberi pagar berjeruji yang tingginya sekitar 3 area pemakaman terlihat batu-batu hitam membentuk kotak cukup besar sebagai tanda makam Hamzah bin Abdul Muthalib dan Abdullah bin Jahsyi, yang merupakan sepupu Nabi Muhammad SAW. Sementara itu makam para syuhada lainnya tidak terlihat ada bisa leluasa melihat ke area dalam pemakaman. Namun tetap ada aturan berziarah yang harus ditaati. Aturannya ada yang tertulis dalam bahasa Indonesia sehingga mudah dimengerti. Foto Nurvita/detikTravelSelama di Jabal Uhud pengunjung dapat mendaki bukit yang tidak terlalu tinggi, namun tidak mudah memang mencapai puncaknya. Tentunya tetap harus selalu berhati-hati ya!Sebelum pulang dari Jabal Uhud pengunjung bisa mampir dulu ke area yang penuh dengan pedagang suvenir serta makanan khas Arab. Beragam suvenir yang ada antara lain perhiasan, tasbih hingga berbagai macam jenis Nurvita/detikTravel krn/wsw SubhanAllah !!! Inilah Gunung Yang Akan Kita Lihat Di Syurga Kelak Tahukah anda bahawa ternyata ada gunung di dunia yang nantinya boleh dijumpa di syurga?Dari sekian banyak gunung yang ada di bumi, gunung yang satu ini memang sangat istimewa. Salah satu makhluk Allah tersebut menjadi saksi bisu terjadinya perang hebat yang pernah dilalui kaum dalamnya terdapat gua yang menjadi tempat persembunyian Rasulullah SAW dan tiga rakannya saat dicari oleh pihak ini menjadi salah satu gunung yang dicintai oleh Rasulullah. Bagi yang sudah melihatnya di dunia, mungkin saja boleh kembali melihatnya di syurga. Gunung apakah yang dimaksudkan? Berikut bumi yang juga akan ditemui di syurga adalah gunung Uhud. Gunung yang terletak kira-kira tujuh kilometer dari Kota Madinah ini mempunyai ketinggian sekitar 1,077 meter dengan panjang bukit hingga 6 ​​Islam yang melaksanakan Haji dan Umrah dapat menyempatkan diri untuk datang ke gunung ini. Rasulullah SAW bersabda “Bukit Uhud adalah salah satu dari bukit-bukit yang ada di syurga.” BukhariRasulullah SAW juga menyatakan kecintaan terhadap gunung ini dalam sebuah hadistnya. Dari Anas bin Malik Rasulullah bersabda “Sesungguhnya Uhud adalah satu gunung yang mencintai kami dan kami juga mencintainya.”HR Bukhari dan Muslim .Gunung Uhud berwarna coklat tua di mana gunung ini berdiri sendiri dan tidak bersambungan dengan gunung lain seperti gunung pada jika ada gunung di sekitarnya mengalami gangguan, maka tidak akan berpengaruh terhadap gunung Uhud. itulah sebabnyamasyarakat Madinah yang menyifatkan Uhud dengan sebutan Jabal Uhud yang bermaksud “gunung menyendiri .Gunung Uhud atau Jabal Uhud mempunyai nilai sejarah yang sangat besar bagi umat ini menjadi saksi bisu perjuangan Nabi Muhammad SAW dan para sahabat dalam pertempuran Uhud melawan kafir Uhud berlaku pada 23 Mac 625 Masehi atau pada 15 Syawal 3 H. Perang ini adalah pertempuran spiritual dan politik yang sebenarnya. Di lembah bukit ini kaum muslimin sebanyak 700 orang melawan kaum musyrikin Makkah sebanyak 3000 perang ini, pasukan diberi pilihan antara kesetiaan pada agama dan kecintaan harta dunia. Jika melihat keadaan gunung tersebut, tidak dapat dibayangkan bagaimana sukarnya pertempuran yang Uhud meninggalkan kisah pilu. Di mana beratus-ratus sahabat Nabi banyak gugur. Bapa saudara Nabi Muhammad SAW, Hamzah bin Abdul Mutalib juga meninggal dunia dalam peperangan syuhada kemudian dimakankan di Bukit ini. Nabi berkata, walaupun pasukan Rasul banyak yang gugur, namun jasad mereka akan tetap mendapat perlindungan dari Allah.“Mereka yang dimakamkan di Uhud tak memperoleh tempat lain kecuali ruhnya berada di dalam burung hijau yang melintasi sungai itu memakan makanan dari taman syurga, dan tak pernah kehabisan makanan. Pada syuhada itu berkata siapa yang akan menceritakan keadaan kami kepada saudara kami bahawa kami sudah berada di syurga. ”Allah SWT kemudian menurunkan ayat yang bermaksud Dan janganlah mengira bahawa orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati QS 3 169.Benar saja, setelah 40 perang berlalu, berlaku banjir besar yang membuat makam dua syuhada yakni Hamzah dan Abdullah bin Jahsyin porak-peranda kerana banjir ternyata, jasad keduanya masih utuh dan kelihatan seperti baru meninggal dunia. Mereka kemudian dikuburkan di tempat lain tetapi masih dalam kawasan masa ini, Gunung Uhud banyak dikunjungi oleh para jemaah yang sedang Umrah atau Terima Kasih,Dipersilakan share jika bermanfaat untuk anda semua. Muslim mana yang tidak pernah mendengar nama Gunung Uhud. Hampir bisa dipastikan setiap Muslim yang lahir dari sebuah keluarga Muslim pernah mendengar nama Gunung bersejarah ini. Di negeri kita, setiap anak muslim bahkan saat masih di TK kemungkinan besar sudah pernah mendengar cerita ghazwah nabi Muhammad ﷺ yang kedua di sekitar Gunung Uhud ini. Gunung ini memang istimewa. Memiliki sejumlah kelebihan dan keutamaan dibanding gunung -gunung lain yang diciptakan oleh Allah di muka bumi ini. Tema inilah yang akan menjadi pembahasan tulisan ini. Letak Gunung Uhud Sumber Gunung Uhud terletak di sebelah utara Madinah. Dahulu tingginya 128 meter, tetapi sekarang sudah menurun hanya tinggal 121 meter saja disebabkan oleh faktor-faktor alam. Dari Masjid Nabawi berjarak 5,5 kilometer dimulai dari pintu Al-Majidi, salah satu nama pintu yang terletak di masjid tersebut. Gunung Uhud terdiri dari tumpukan batu-batu granit berwarna merah, dan memiliki beberapa puncak. Di sebelah selatan terdapat sebuah gunung kecil bernama Gunung Ainaini, dan setelah peristiwa Perang Uhud dikenal dengan nama Gunung Rammat. Di antara kedua gunung tersebut terbentang sebuah lembah yang dikenal dengan nama Lembah Qannal.[i] Baca juga Keutamaan Kota Makkah Berdasar Quran dan Sunnah Hadits Nabi ﷺ Tentang Gunung Uhud Beberapa hadits yang berbicara tentang Gunung Uhud di antaranya adalah sebagai berikut Hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu riwayat Al-Bukhari عَنْ عَمْرِو بْنِ أَبِي عَمْرٍو مَوْلَى الْمُطَّلِبِ بْنِ حَنْطَبٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ خَرَجْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى خَيْبَرَ أَخْدُمُهُ فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَاجِعًا وَبَدَا لَهُ أُحُدٌ قَالَ هَذَا جَبَلٌ يُحِبُّنَا وَنُحِبُّهُ ثُمَّ أَشَارَ بِيَدِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ قَالَ اللَّهُمَّ إِنِّي أُحَرِّمُ مَا بَيْنَ لَابَتَيْهَا كَتَحْرِيمِ إِبْرَاهِيمَ مَكَّةَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي صَاعِنَا وَمُدِّنَا Dari Amru bin Abi Amru mantan budak yang telah dimerdekakan oleh Al Muthallib bin Hanthab bahwa dia mendengar Anas bin Malik radhiallahu anhu berkata, “Aku keluar bersama Rasulullah ﷺ menuju Khaibar dimana aku melayani beliau. Ketika beliau kembali pulang dan sampai di dekat gunung Uhud, beliau ﷺ bersabda, “Gunung ini mencintai kita dan kita pun mencintainya.” Kemudian beliau memberi isyarat dengan tangannya ke arah Madinah seraya bersabda, Ya Allah, sungguh aku mensucikan apa yang ada di antara dua bukit hitam ini maksudnya Madinah sebagaimana Nabi Ibrahim Alaihis Salam mensucikan Makkah. Ya Allah berilah berkah kepada kami dalam takaran sha’ dan mud kami.” [Hadits riwayat Al-Bukhari Bab Keutamaan membantu dalam perang] Hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu riwayat Al-Bukhari عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ اتَّبَعَ جَنَازَةَ مُسْلِمٍ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا وَكَانَ مَعَهُ حَتَّى يُصَلَّى عَلَيْهَا وَيَفْرُغَ مِنْ دَفْنِهَا فَإِنَّه يَرْجِعُ مِنْ الْأَجْرِ بِقِيرَاطَيْنِ كُلُّ قِيرَاطٍ مِثْلُ أُحُدٍ وَمَنْ صَلَّى عَلَيْهَا ثُمَّ رَجَعَ قَبْلَ أَنْ تُدْفَنَ فَإِنَّهُ يَرْجِعُ بِقِيرَاطٍ تَابَعَهُ عُثْمَانُ الْمُؤَذِّنُ قَالَ حَدَّثَنَا عَوْفٌ عَنْ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَهُ Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda,”Barangsiapa mengiringi jenazah muslim, karena iman dan mengharapkan balasan dan dia selalu bersama jenazah tersebut sampai dishalatkan dan selesai dari penguburannya, maka dia pulang dengan membawa dua qiroth, setiap qiroth setara dengan gunung Uhud. Dan barangsiapa menyolatkannya dan pulang sebelum dikuburkan maka dia pulang membawa satu qiroth.” [Hadits Bukhari Bab Mengiringi jenazah bagian dari iman] Hadits Anas bin Malik radhiyallahu anhu riwayat Ahmad حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ أَنَّ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ حَدَّثَهُمْ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَعِدَ أُحُدًا فَتَبِعَهُ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ فَرَجَفَ بِهِمْ الْجَبَلُ فَقَالَ اسْكُنْ عَلَيْكَ نَبِيٌّ وَصِدِّيقٌ وَشَهِيدَانِ Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id berkata; telah menceritakan kepada kami Syu’bah berkata, telah menceritakan kepada kami Qotadah bahwa Anas bin Malik menceritakan kepada mereka, bahwa Nabi ﷺ mendaki gunung Uhud, sedang Abu Bakar, Umar serta Utsman mengikutinya. Maka gunung tersebut bergetar karena keberadaan mereka. Lalu Nabi ﷺ pun bersabda “Tenanglah, sesungguhnya di atasmu ada seorang Nabi, seorang Shiddiq dan dua orang syahid.” [Hadits Ahmad Musnad Anas bin Malik Radliyallahu anhu ] Hadits dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu riwayat Al-Bukhari عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ Dari Abu Sa’id Al Khudriy radhiyallahu anhu, dia berkata,” Nabi ﷺ bersabda, “Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian menginfaqkan emas sebesar Gunung Uhud, tidak akan ada yang menyamai satu Mud sekitar 0,6 kg, pent infaq seorang dari mereka, tidak pula setengahnya.” Hadits dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu riwayat Ahmad عَنْ زِرِّ بْنِ حُبَيْشٍ عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ أَنَّهُ كَانَ يَجْتَنِي سِوَاكًا مِنْ الْأَرَاكِ وَكَانَ دَقِيقَ السَّاقَيْنِ فَجَعَلَتْ الرِّيحُ تَكْفَؤُهُ فَضَحِكَ الْقَوْمُ مِنْهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِمَّ تَضْحَكُونَ قَالُوا يَا نَبِيَّ اللَّهِ مِنْ دِقَّةِ سَاقَيْهِ فَقَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَهُمَا أَثْقَلُ فِي الْمِيزَانِ مِنْ أُحُدٍ Dari Zirr bin Hubaisy dari Ibnu Mas’ud bahwa ia memetik siwak dari pohon Arak dan ia memiliki betis yang kecil, tiba-tiba angin menyingkap kedua kakinya lalu orang-orang menertawakannya. Rasulullah ﷺ bertanya, ”Apa yang kalian tertawakan?” Mereka menjawab,”Wahai Nabiyullah, kami menertawakan betisnya yang kecil.” Maka beliau bersabda,”Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kedua betisnya lebih berat timbangannya dari gunung Uhud.” [Hadits Ahmad Musnad Abdullah bin Mas’ud Radliyallahu ta’ala anhu] Hadits dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu riwayat Ahmad حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ حَدَّثَنَا مُغِيرَةُ عَنْ أُمِّ مُوسَى قَالَتْ سَمِعْتُ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ أَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ابْنَ مَسْعُودٍ فَصَعِدَ عَلَى شَجَرَةٍ أَمَرَهُ أَنْ يَأْتِيَهُ مِنْهَا بِشَيْءٍ فَنَظَرَ أَصْحَابُهُ إِلَى سَاقِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ حِينَ صَعِدَ الشَّجَرَةَ فَضَحِكُوا مِنْ حُمُوشَةِ سَاقَيْهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا تَضْحَكُونَ لَرِجْلُ عَبْدِ اللَّهِ أَثْقَلُ فِي الْمِيزَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أُحُدٍ Dari Umu Musa, dia berkata, “Saya mendengar Ali Radhiyallah anhu berkata,” Nabi ﷺ memerintahkan Ibnu Mas’ud, maka dia memanjat sebuah pohon karena Nabi ﷺ memerintahnya untuk mengambilkan sesuatu dari pohon itu. Para sahabat melihat ke arah betis Abdullah bin Mas’ud yang sedang memanjat pohon kemudian mereka tertawa karena betisnya yang kecil. Maka Rasulullah ﷺ bersabda, ”Apa yang kalian tertawakan? Kaki Abdullah itu lebih berat daripada gunung Uhud dalam timbangan pada hari kiamat.” [Hadits Ahmad Musnad Ali bin Abu Thalib Radliyallahu anhu] Baca juga Keutamaan Shahabat Nabi Sumber Di antara keutamaan Gunung Uhud adalah sebagai berikut[ii] 1. Gunung Uhud memiliki hubungan cinta yang bersifat khusus dengan Rasulullah ﷺ, hubungan cinta dan kasih sayang. Hal ini, Rasulullah ﷺ bersabda,” أُحُد جبلٌ يحبُّنا ونُحبُّه – رواه البخاري ”Uhud adalah gunung yang mencintai kita dan kita mencintainya.” [Hadits riwayat Al-Bukhari] 2. Uhud adalah gunung yang diajak bicara oleh Nabi ﷺ . Saat Nabi Muhammad ﷺ berbicara kepadanya dalam bentuk memberi perintah maka Gunung Uhud kemudian patuh dan taat. Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Qatadah bahwa Anas bin Malik radhiyallahu bercerita kepadanya bahwa Nabi ﷺ mendaki Uhud bersama Abu Bakar dan Utsman. Lantas Gunung Uhud tersebut bergetar karena mereka itu. Maka Nabi ﷺ bersabda اثبُتْ أُحُد؛ فإن فوقَك نبيٌّ وصدِّيق وشهيدَينِ ”Tenanglah Uhud! Sesungguhnya di atasmu ada seorang Nabi, seorang Shiddiq dan dua orang syahid.” [Hadits riwayat Al-Bukhari] 3. Jabal Uhud menyimpan banyak peristiwa bersejarah dan berbagai pelajaran Hal ini, telah banyak dijelaskan secara rinci oleh para ulama dalam berjilid-jilid buku yang besar. Salah satu yang paling terkenal adalah peristiwa perang Uhud. Kisah selengkapnya ada bisa dibaca di artikel pelajaran hikmah dari perang uhud. Sebab Penamaan Gunung Uhud Sumber Ada tiga riwayat yang menyebutkan tentang sebab dinamakan Gunung Uhud, yaitu[iii] Riwayat pertama menyebutkan bahwa dinamakan demikian karena Gunung Uhud menyendiri dari gunung – gunung yang lain. Gunung Uhud dikelilingi oleh lembah-lembah dan tanah yang datar. Riwayat kedua menyatakan bahwa Gunung Uhud dinamakan dengan Uhud sebagai sebuah penyandaran kepada seorang pria yang dipanggil dengan Uhud’ dari Al-Amaliq, yaitu penduduk tradisional generasi awal dari kota Madinah. Sesungguhnya Uhud pindah ke Gunung itu dan tinggal di sana. Semenjak itu gunung tersebut dinamakan dengan namanya. Riwayat ketiga menyatakan bahwa penamaan Gunung Uhud kembali kepada tanda keesaan Allah Azza wa Jalla. Baca juga Larangan di Tanah Haram Bukti Mukjizat Nabi ﷺ di Gunung Uhud Sumber Paling tidak ada dua buah bukti mukjizat Nabi ﷺ saat berada di Gunung Uhud Nabi ﷺ berbicara dengan Gunung Uhud dan gunung tersebut bisa memahaminya. Di Gunung Uhud tersebut nampak Mukjizat Nabi Muhammad ﷺ, yaitu sebagaimana terlihat dalam hadits yang menceritakan saat Nabi Muhammad ﷺ mendaki Gunung Uhud bersama Abu Bakar, Umar dan Utsman radhiyallahu anhum. Pada saat itu Nabi ﷺ merasakan getaran dari Gunung Uhud tersebut. Beliau mengerti sepenuhnya bahwa getaran tersebut karena keberadaan mereka berempat. Bahkan lebih jauh dari itu, beliau mengajak bicara Gunung Uhud seolah Gunung Uhud itu makhluk yang berakal yang mengerti pembicaraan manusia. Nabi ﷺ bersabda اثبُتْ أُحُد؛ فإن فوقَك نبيٌّ وصدِّيق وشهيدَينِ ”Tenanglah Uhud! Sesungguhnya di atasmu ada seorang Nabi, seorang Shiddiq dan dua orang syahid.” [Hadits riwayat Al-Bukhari] Dan terbukti, setelah Nabi ﷺ memerintahkan Gunung Uhud untuk besikap tenang, Gunung Uhud langsung berhenti getarannya. Ini menunjukkan salah satu Mukjizat Nabi ﷺ saat berada di gunung tersebut. Dr. Mahmud Abdul Azis Yusuf berkata,”Saat Rasulullah ﷺ berdiri di atas Gunung Uhud, sesungguhnya Gunung Uhud mendengar, memahami dan mencintai serta mendengar ucapan Nabi ﷺ اثبُت أُحُد “Tenanglah Uhud.” Lalu Gunung Uhud mentaati perintahnya dan bersikap tenang dan kokoh. Ibnu Hajar rahimahullah berkata, ”Sesungguhnya Rasulullah ﷺ telah berbicara kepada Uhud dengan pembicaraan kepada orang yang bisa memahami sehingga ketika Uhud berguncang Rasulullah ﷺ bersabda اسكن أُحُد Tenanglah Uhud.”.[iv] Nabi ﷺ memberikan kabar gembira kepada Umar dan Utsman radhiyallahu anhuma bahwa mereka akan mendapatkan syahadah kematian syahid Ini merupakan bentuk informasi tentang perkara ghaib. Ini merupakan dalil yang kuat bahwa Nabi ﷺ tidak berbicara berdasar hawa nafsu namun itu hanyalah wahyu semata sebagaimana telah disebutkan dalam Al-Quran.[v] Allah Ta’ala berfirman وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى “Dan dia tidaklah berbicara dari dorongan hawa nafsunya, akan tetapi ucapannya tiada lain adalah wahyu yang disampaikan kepadanya.” [An Najm 3-4] Sekian tahun setelah itu, terbuktilah apa yang disabdakan oleh Nabi Muhammad ﷺ. Umar dan Utsman radhiyallahu anhuma masing-masing meninggal sebagai syahid karena dibunuh. Umar bin Khathab radhiyallahu anhu dibunuh oleh Abu Lu’luah al-Majusi saat sedang shalat Shubuh dan mati syahid akibat dari tikaman pisau Abu Lu’luah. Sedangkan Utsman radhiyallahu anhu dibunuh di rumahnya saat sedang membaca al-Quran oleh sekelompok orang Khawarij.[vi] Baca juga Sebab Penamaan Bulan Haram Apakah Disunnahkan Untuk Mengunjungi Gunung Uhud? Sumber Gunung Uhud memang tempat bersejarah yang istimewa. Setiap Muslim dari luar Jazirah Arab yang diberi kemudahan untuk berkunjung ke Madinah akan terbersit keinginan untuk menyempatkan diri mengunjungi situs penting tersebut. Namun demikian, yang perlu diketahui adalah bahwa ziarah ke Gunung Uhud itu bukanlah perkara yang disunnahkan atau dianjurkan dalam agama yang memiliki nilai pahala tertentu karena mendatanginya. Ia bukan merupakan sunnah yang dianjurkan saat seorang Muslim berkunjung ke Madinah. Tidak ada dalil syar’i yang mengkhususkan untuk berziarah ke Gunung Uhud sebagaimana nash yang menegaskan bahwa Nabi ﷺ secara berkala biasa mengunjungi Masjid Quba’ dan kemudian shalat dua rakaat di dalamnya. Rasulullah ﷺ menegaskan adanya keutamaan khusus shalat di Masjid Quba’, yaitu seperti pahala umrah. Para sahabat radhiyallahu anhum adalah orang-orang yang paling bersemangat untuk mengikuti sunnah Nabi ﷺ. Meskipun demikian tidak diketahui dari mereka adanya kebiasaan menziarahi Gunung Uhud dengan keyakinan sebagai sebuah sunnah yang berpahala dengan melakukannya. Andaikan itu kebaikan maka mereka pasti telah mendahului kita melakukannya. Syaikh Abdul Azis bin Abdullah bin Baz rahimahullah saat menjelaskan tentang apa saja yang dianjurkan secara syar’i untuk dilakukan bagi orang yang mengunjungi Madinah menjelaskan diantaranya adalah sebagai berikut ”Dianjurkan juga bagi orang yang berziarah ke Madinah untuk mengunjungi Masjid Quba’ dan shalat dua rakaat di dalamnya sebagaimana dahulu Nabi ﷺ mengunjunginya. Nabi ﷺ memberitahukan bahwa siapa yang mengunjunginya من تطهر في بيته ثم أتى مسجد قباء فصلى فيه ركعتين كان كعمرة “Siapa yang berwudhu di rumahnya kemudian mendatangi Masjid Quba’ lalu shalat di dalamnya dua rakaat, maka pahalanya seperti umrah.” Maka, ziarah Masjid Quba’ itu sunnah dan mendekatkan diri kepada Allah karena mengikuti Nabi ﷺ dalam masalah tersebut. Inilah yang disyariatkan bagi orang yang mengunjungi Madinah. Adapun kunjungan yang bertujuan ke tempat-tempat lain seperti sumur-sumur, masjid-masjid lain atau area-area yang lain maka ini tidak disyariatkan.” [vii] Di bagian sebelumnya dari fatwa ini, Syaikh Abdul Azis bin Baz menganjurkan agar berziarah ke kuburan para syuhada’ Uhud. Beliau menyatakan bahwa ini disunnahkan karena Nabi ﷺ juga berziarah ke makam para Syuhada’ Uhud. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah saat menjelaskan tempat-tempat yang disyariatkan untuk dikunjungi di Madinah mengatakan, ”Inilah 5 tempat di Madinah Masjid Nabawi, Kuburan Nabi ﷺ, Kuburan dua sahabatnya yaitu Abu Bakar dan Umar radhiyallahu anhuma, Pemakaman Baqi’, Syuhada’ Uhud, Masjid Quba’. Tempat-tempat kunjungan selain itu di Madinah tidak ada dasarnya dan tidak disyariatkan untuk pergi ke sana.”[viii] Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa mengunjungi Gunung Uhud bukan perkara yang disunnahkan. Yang disunnahkan adalah berziarah ke makam para Syuhada’ Uhud. Semoga tulisan tentang keutamaan Gunung Uhud ini bermanfaat. Bila ada kebenaran di dalamnya maka itu dari rahmat Allah semata dan bila ada kesalahan dan kekeliruan maka itu dari kami dan dari setan. Allah dan Rasul-Nya berlepas diri darinya. [i] Seleksi Sirah Nabawiyah-Studi Kritis Muhadditsin Terhadap Riwayat Dha’if, Dr. Akram Dhiya’ Al-Umuri, Pustaka Darul Falah, Jakarta, hal. 406. [ii] [iii] Ibid. [iv] ibid [v] [vi] ibid [vii] [viii]

bukit uhud terukir nama nabi muhammad